Simulasi Pintu Air
Simulasi Pintu Air dan Loncat Hidraulik
Atur kedalaman hulu, bukaan pintu, tailwater, lebar saluran, dan koefisien aliran. Seret langsung muka air hulu, bagian bawah pintu, atau muka air hilir pada gambar. Simulator menghitung debit, vena contracta, Froude, kedalaman pasangan, kehilangan energi, daya disipasi, klasifikasi loncat, dan kurva perubahan debit terhadap bukaan pintu.
Pengaturan parameterPengaturan → simulasi → pembacaan hasil → grafik → teori
Pembacaan hasilRingkasan kondisi, kemudian rincian pada empat penampang kontrol
| Penampang | y (m) | V (m/s) | Fr | E = y + V²/2g (m) | M = y²/2 + q²/gy (m²) | Rezim |
|---|
Kurva karakteristik pintu
Sumbu datar menunjukkan bukaan pintu. Debit dibaca pada sumbu kiri, sedangkan kedalaman pasangan y₂ dan tailwater dibaca pada sumbu kanan. Titik perpotongan y₂ dengan tailwater menandai bukaan yang mendukung loncat relatif stabil untuk kondisi muka air saat ini.
Dasar teori pintu air dan loncat hidraulik
1. Fungsi pintu air
Pintu air atau sluice gate mengatur debit dan muka air dengan memaksa aliran melewati bukaan yang lebih kecil daripada kedalaman hulu. Penyempitan ini meningkatkan kecepatan dan menghasilkan jet tipis di bawah pintu. Jet tersebut biasanya superkritis dan dapat berubah kembali menjadi aliran subkritis melalui loncat hidraulik.
2. Head efektif dan debit
Pada aliran bebas, head efektif diukur dari muka air hulu ke pusat bukaan:
Debit ideal diperoleh dengan Cd = 1. Debit aktual lebih kecil karena kontraksi dan kehilangan energi. Bila opsi koreksi pintu terendam diaktifkan dan muka air hilir menutupi bukaan, simulator memakai pendekatan:
3. Vena contracta
Garis arus masih berkumpul sesaat setelah melewati pintu sehingga ketebalan jet mencapai minimum pada vena contracta. Kedalamannya diperkirakan dengan:
4. Bilangan Froude dan kedalaman kritis
- Fr < 1: aliran subkritis.
- Fr = 1: aliran kritis.
- Fr > 1: aliran superkritis.
Jet di bawah pintu umumnya memiliki y1 < yc dan Fr1 > 1. Setelah loncat, kedalaman meningkat, kecepatan turun, dan Fr menjadi lebih kecil dari satu.
5. Kedalaman pasangan dari momentum
Energi tidak kekal di dalam loncat karena turbulensi sangat besar, tetapi momentum arah aliran dapat dipakai untuk menghubungkan kedalaman sebelum dan sesudah loncat:
Hubungan yang sama dapat dinyatakan dengan gaya spesifik per satuan lebar:
6. Tailwater dan posisi loncat
| Perbandingan yt/y₂ | Kondisi | Respons fisik |
|---|---|---|
| Jauh di bawah 1 | Loncat tersapu ke hilir | Jet tipis bertahan lebih panjang dan roller terbentuk jauh dari pintu. |
| Mendekati 1 | Loncat relatif stabil | Tailwater menyediakan kedalaman yang hampir sama dengan kedalaman pasangan. |
| Lebih besar dari 1 | Loncat terdorong atau terendam | Roller bergerak mendekati pintu dan tertutup air hilir. |
7. Klasifikasi loncat berdasarkan Fr₁
| Fr₁ | Jenis loncat | Ciri umum |
|---|---|---|
| 1,0–1,7 | Undular | Gelombang permukaan muncul, roller belum berkembang penuh. |
| 1,7–2,5 | Weak | Roller kecil dan disipasi energi terbatas. |
| 2,5–4,5 | Oscillating | Jet dan roller berosilasi; kondisi kurang stabil. |
| 4,5–9,0 | Steady | Roller relatif stabil dan disipasi energi efektif. |
| > 9,0 | Strong | Turbulensi dan kehilangan energi sangat besar. |
8. Kehilangan energi dan daya disipasi
Daya disipasi menunjukkan laju energi yang diubah menjadi turbulensi, aerasi, panas, dan suara. Besaran ini membantu menjelaskan mengapa kolam olak diperlukan untuk melindungi dasar saluran dari gerusan.
9. Panjang loncat
Persamaan ini hanya perkiraan visual. Panjang aktual dipengaruhi Fr₁, kekasaran dasar, kemiringan, aerasi, dan bentuk kolam olak. Dalam desain, gunakan hubungan empiris yang direkomendasikan standar terkait.
10. Contoh perhitungan
y₂ = (0,20/2)[√(1 + 8 × 4,0²) - 1] ≈ 1,04 m.
Agar loncat relatif stabil, tailwater perlu mendekati 1,04 m. Bila tailwater hanya 0,50 m, loncat akan bergeser ke hilir; bila tailwater 1,50 m, roller akan terdorong ke arah pintu dan mulai terendam.
11. Eksperimen yang disarankan
- Tekan preset Loncat stabil, lalu turunkan tailwater sedikit demi sedikit.
- Perkecil bukaan pintu pada muka air hulu tetap dan amati perubahan Fr₁ serta y₂.
- Naikkan Cd tanpa mengubah Cc dan perhatikan peningkatan kecepatan jet.
- Aktifkan koreksi pintu terendam, kemudian naikkan tailwater hingga menutupi bukaan.
- Gunakan pencari bukaan untuk debit rencana, lalu baca posisi titik pada kurva karakteristik.
Catatan lanjut: mengapa loncat dihitung dengan momentum, bukan energi?
Di dalam roller terjadi pusaran besar, entrainment udara, dan fluktuasi tekanan. Energi mekanik berkurang sangat nyata sehingga persamaan energi antara y₁ dan y₂ memerlukan kehilangan energi yang belum diketahui. Sebaliknya, resultan gaya luar pada kontrol volume pendek di sekitar loncat dapat dihitung, sehingga persamaan momentum langsung menghasilkan hubungan kedalaman pasangan. Setelah y₂ diketahui, kehilangan energi baru dihitung dari selisih energi spesifik kedua penampang.
Komentar