[Ngomongin Buku] The Death of Expertise — Ketika Semua Orang Merasa Sama Ahlinya
Ketika Semua Orang Merasa Sama Ahlinya
Catatan pembuka dari buku The Death of Expertise karya Tom Nichols: tentang ilmu, kepakaran, demokrasi, internet, dan kerendahan hati untuk berkata, “Saya belum tahu.”
Pernah nggak Anda merasa pendapat Anda di kolom komentar sama sahihnya dengan pendapat orang yang belajar 20 tahun tentang hal itu? Kalau pernah, mungkin kita sedang mengidap penyakit yang sama.
Kepakaran bukan berarti orang ahli selalu benar. Tetapi menolak semua ahli hanya karena kita punya opini sendiri juga bukan sikap yang bijak.
Beberapa kejadian beberapa hari ini membuat saya tergelitik untuk mulai membahas sebuah buku berjudul The Death of Expertise atau Matinya Kepakaran karya Tom Nichols.
Kebetulan saya sempat melihat buku ini dibahas Pak Anies Baswedan di YouTube, lalu jadi tertarik untuk membacanya dan membahasnya lebih jauh. Dulu saya pernah menulis sedikit tentang buku ini, tapi rasanya menarik kalau dibahas lebih pelan, mungkin per bab.
1. Sebenarnya yang “mati” itu apa?
Lalu sebenarnya yang “mati” di sini apa?
Bukan berarti para ahli benar-benar hilang. Dokter tetap ada. Insinyur tetap ada. Pengacara, pilot, peneliti, akademisi, semuanya tetap dibutuhkan. Dunia jelas tidak bisa berjalan hanya dengan opini netizen.
Yang sedang sekarat, menurut buku ini, adalah hubungan antara ahli dan masyarakat. Bukan matinya keahlian, tetapi matinya kemauan untuk mendengar orang yang memang belajar lebih lama dan lebih dalam.
2. Hak bicara setara, tetapi ilmu tidak selalu setara
Masalahnya, orang sering mencampuradukkan hak yang setara dengan kebenaran yang setara. Dalam demokrasi, setiap orang memang punya hak suara. Tapi itu tidak berarti semua opini otomatis punya bobot keilmuan yang sama.
Hak berbicara itu setara, tetapi kualitas pengetahuan tidak selalu setara. Pendapat orang yang membaca satu utas viral tentu tidak bisa langsung disamakan dengan orang yang meneliti satu bidang selama belasan atau puluhan tahun.
3. Ini bukan ajakan menyembah para ahli
Nichols juga tidak sedang mengajak kita menyembah para ahli. Pakar tetap bisa salah. Mereka bisa keliru, bisa sombong, bisa punya bias, dan bisa khilaf seperti manusia biasa.
Tapi kalau pakar saja bisa salah, apalagi kita yang tidak mendalami bidang itu sama sekali. Maka sikap yang sehat bukan percaya buta, tapi juga bukan menolak mentah-mentah. Yang sehat adalah berdialog, bertanya, dan belajar.
Masalahnya, ruang dialog itu yang sering hilang. Kita memakai ahli hanya ketika pendapatnya cocok dengan kita. Kalau tidak cocok, langsung dicap pesanan, elitis, tidak membumi, atau tidak paham rakyat. Padahal bisa jadi kita yang memang belum cukup paham.
4. Publik dan akademisi sama-sama perlu bercermin
Sebagai orang yang berdiri di dua sisi, sebagai pengajar sekaligus mahasiswa yang masih terus belajar, saya merasa buku ini menggambarkan kondisi era sekarang dengan cukup adil.
Ia bukan hanya menampar publik yang malas mendengar, tetapi juga akademisi yang terlalu nyaman di menara gading, sibuk dengan jargon, dan lupa menjelaskan ilmunya kepada masyarakat.
Refleksi pribadi
Mungkin inilah tantangan kita hari ini. Ilmu tidak benar-benar mati. Yang bisa mati adalah kerendahan hati untuk berkata, “Saya belum tahu.” Padahal, dari kalimat sederhana ini, proses belajar seharusnya bisa dimulai.
5. Mengapa buku ini penting dibahas?
Buku ini terasa relevan karena kita hidup di zaman ketika informasi sangat mudah didapat, tetapi pemahaman tidak selalu ikut bertambah. Orang bisa membaca satu potongan berita, menonton satu video pendek, atau melihat satu grafik, lalu merasa sudah cukup untuk menyimpulkan persoalan besar.
Dalam isu politik, ekonomi, kesehatan, pendidikan, agama, hukum, sampai bencana, kita sering melihat pola yang sama. Banyak orang tidak lagi bertanya untuk belajar, tetapi bertanya untuk menjebak. Tidak lagi berdiskusi untuk memahami, tetapi berdiskusi untuk menang.
Padahal, dalam banyak hal, semakin kita belajar, seharusnya semakin sadar bahwa dunia ini kompleks. Tidak semua hal bisa dijawab dengan satu kalimat pendek. Tidak semua persoalan bisa dipahami hanya dari satu potongan data.
Penutup
Maka, seri ini akan mencoba membahas The Death of Expertise pelan-pelan. Bukan untuk membuat kita anti-demokrasi, bukan pula untuk membuat kita tunduk buta kepada para ahli.
Justru sebaliknya, buku ini bisa menjadi pengingat bahwa demokrasi membutuhkan warga yang mau belajar. Kritik tetap perlu. Pertanyaan tetap penting. Pengawasan terhadap kekuasaan juga wajib. Tetapi semua itu akan lebih kuat jika dibangun di atas ilmu, bukan sekadar emosi.
Mungkin bahasan ini tidak membuat kita langsung menjadi lebih pintar. Tapi semoga setidaknya membuat kita sedikit lebih hati-hati sebelum merasa paling tahu.
Karena dalam banyak hal, awal dari ilmu bukanlah kemampuan menjelaskan panjang lebar.
Awal dari ilmu sering kali hanya satu kalimat sederhana:
Komentar