Hari 003 dari 60 Mengenal Budaya Jepang — Budaya, Agama, dan Batas Seorang Muslim
Budaya, Agama, dan Batas Seorang Muslim
Hari ketiga dari seri 60 hari mengenal budaya Jepang: belajar membedakan mana kebiasaan sosial, mana tradisi budaya, dan mana ritual agama yang perlu dijauhi oleh seorang Muslim.
Tinggal atau belajar tentang Jepang membuat kita bertemu dengan banyak hal baru. Ada yang sekadar kebiasaan sosial, seperti antre, membungkuk ringan saat menyapa, atau menjaga suara di tempat umum. Ada yang berupa tradisi masyarakat, seperti menikmati perubahan musim. Tetapi ada juga yang berkaitan dengan ritual agama, keyakinan, jimat, doa, atau bentuk penghormatan tertentu yang perlu diwaspadai oleh seorang Muslim.
Kyoukai — batas; garis yang membantu kita tahu mana yang bisa didekati dan mana yang perlu dijauhi.
1. Tidak semua budaya itu sama
Sering kali kita memakai kata “budaya” untuk banyak hal sekaligus. Padahal, tidak semua budaya memiliki hukum dan posisi yang sama. Ada budaya yang sifatnya kebiasaan sosial. Ada budaya yang berkaitan dengan etika masyarakat. Ada budaya yang lahir dari sejarah panjang sebuah bangsa. Ada juga budaya yang sebenarnya sangat dekat dengan ritual agama dan keyakinan.
Karena itu, seorang Muslim perlu hati-hati. Kita tidak boleh terlalu mudah mengatakan, “Ini kan cuma budaya.” Bisa jadi memang hanya budaya sosial. Tetapi bisa juga ia adalah bagian dari ritual, simbol keyakinan, atau bentuk pengagungan kepada selain Allah.
2. Tiga kategori sederhana
Agar lebih mudah, dalam seri ini kita bisa membagi budaya Jepang ke dalam tiga kategori sederhana. Pembagian ini bukan fatwa, tetapi alat bantu agar kita lebih berhati-hati ketika belajar budaya.
| Kategori | Contoh | Sikap Seorang Muslim |
|---|---|---|
| Kebiasaan sosial umum | Antre, tepat waktu, menjaga suara, memilah sampah, tidak mengganggu orang lain. | Boleh dipelajari selama tidak mengandung pelanggaran syariat. |
| Tradisi budaya masyarakat | Menikmati musim, melihat sakura, memakai bahasa sopan, membawa oleh-oleh. | Boleh dengan batas tertentu, selama tidak masuk ritual agama, maksiat, atau keyakinan batil. |
| Ritual atau simbol agama | Berdoa di kuil, membeli jimat, mengikuti ritual penyucian, meminta keberuntungan kepada selain Allah. | Ditinggalkan dan dijauhi, karena berkaitan dengan akidah dan ibadah. |
3. Contoh yang relatif aman dipelajari
Ada banyak budaya Jepang yang bisa kita pelajari sebagai adab sosial. Misalnya, budaya tidak membuat meiwaku, yaitu tidak menyusahkan atau mengganggu orang lain. Ini bisa kita arahkan kepada adab Islam: menjaga hak tetangga, tidak berisik, tidak menyerobot antrean, dan tidak membuat orang lain terganggu dengan perilaku kita.
Budaya mottainai, yaitu rasa sayang jika sesuatu terbuang sia-sia, juga bisa diarahkan kepada larangan boros. Begitu pula budaya souji atau bersih-bersih, bisa mengingatkan kita bahwa kebersihan bukan hanya slogan, tetapi perlu diwujudkan dalam rumah, sekolah, masjid, tempat kerja, dan lingkungan.
Meiwaku
Tidak menyusahkan orang lain. Ini bisa diarahkan kepada adab menjaga hak sesama manusia.
Mottainai
Tidak menyia-nyiakan makanan, barang, waktu, dan tenaga. Ini dekat dengan sikap anti-pemborosan.
Souji
Kebiasaan membersihkan ruang yang digunakan bersama. Ini bisa menjadi latihan tanggung jawab.
4. Contoh yang perlu diberi batas
Ada pula budaya yang tidak selalu salah dari sisi sosial, tetapi perlu diberi batas. Misalnya hanami, yaitu kegiatan melihat bunga sakura. Melihat keindahan bunga dan perubahan musim pada dasarnya bisa menjadi sarana merenungi ciptaan Allah. Tetapi jika kegiatan itu bercampur dengan alkohol, ikhtilat yang tidak terjaga, meninggalkan shalat, atau mengikuti ritual tertentu, maka batasnya harus jelas.
Begitu juga dengan omiyage atau budaya membawa oleh-oleh. Memberi hadiah adalah hal yang baik. Tetapi jika berubah menjadi beban sosial yang berlebihan, memaksakan diri, atau membuat seseorang membeli sesuatu di luar kemampuan, maka nilai baiknya bisa berubah menjadi tekanan.
5. Contoh yang perlu dijauhi
Ada hal-hal yang seorang Muslim perlu jauhi dengan tegas. Misalnya membeli omamori atau jimat keberuntungan, berdoa di kuil, meminta keselamatan kepada selain Allah, mengikuti ritual penyucian yang memiliki makna keagamaan, atau menggantungkan harapan pada simbol-simbol tertentu.
Dalam urusan seperti ini, kita tidak perlu merasa tidak enak hanya karena sedang berada di Jepang. Sopan kepada masyarakat setempat tetap bisa dilakukan tanpa ikut dalam ritual agama mereka. Menghormati orang lain bukan berarti ikut beribadah dengan cara mereka. Toleransi bukan berarti mencampuradukkan akidah.
6. Bagaimana bersikap ketika diajak?
Tinggal di Jepang kadang membuat kita berada dalam situasi yang tidak selalu mudah. Mungkin ada teman yang mengajak ke kuil. Mungkin ada acara sekolah anak yang dilakukan di tempat tertentu. Mungkin ada rekan kerja yang mengajak mengikuti perayaan tertentu. Dalam situasi seperti ini, kita perlu bersikap tenang, sopan, tetapi tetap jelas.
Kita tidak perlu marah-marah. Tidak perlu menghina budaya mereka. Tidak perlu menjelaskan panjang lebar dengan nada menyerang. Cukup sampaikan bahwa sebagai Muslim, ada bagian tertentu yang tidak bisa kita ikuti. Sikap seperti ini biasanya lebih mudah diterima jika disampaikan dengan tenang dan konsisten.
| Situasi | Respons yang Lebih Aman |
|---|---|
| Diajak melihat area kuil sebagai wisata sejarah | Boleh berhati-hati sesuai kebutuhan, tetapi jangan ikut berdoa, memberi persembahan, atau melakukan ritual. |
| Diajak membeli jimat keberuntungan | Tolak dengan sopan. Jelaskan bahwa dalam Islam kita tidak memakai jimat. |
| Diajak acara yang ada alkohol | Hindari sebisa mungkin, atau hadir hanya jika sangat perlu dan tetap menjaga batas, tanpa ikut minum. |
| Diajak merayakan tradisi yang bercampur ritual | Pahami dulu bentuk kegiatannya. Jika mengandung unsur ibadah agama lain, tinggalkan. |
7. Menjaga adab tanpa kehilangan prinsip
Ada orang yang karena ingin menjaga hubungan sosial, akhirnya terlalu mudah ikut semua hal. Ada pula yang karena ingin menjaga prinsip, akhirnya berbicara kasar dan merendahkan budaya orang lain. Keduanya perlu dihindari.
Seorang Muslim seharusnya bisa menjaga dua hal sekaligus: adab dan prinsip. Adab membuat kita tidak mudah menyakiti orang lain. Prinsip membuat kita tidak mudah terbawa arus. Adab tanpa prinsip bisa membuat seseorang terlalu cair. Prinsip tanpa adab bisa membuat seseorang keras dalam cara yang tidak bijak.
8. Jangan merasa asing dengan batas
Kadang seseorang merasa tidak nyaman ketika harus berbeda. Saat orang lain melakukan sesuatu, ia merasa tidak enak jika tidak ikut. Saat orang lain masuk ke tempat ritual, ia merasa takut dianggap tidak sopan jika menunggu di luar. Saat orang lain memakai simbol tertentu, ia merasa takut terlihat aneh jika menolak.
Padahal, menjaga batas adalah bagian dari identitas seorang Muslim. Kita tidak harus ikut semua hal untuk bisa hidup damai dengan orang lain. Kita tetap bisa menjadi tetangga yang baik, teman yang sopan, pekerja yang amanah, mahasiswa yang rajin, dan warga yang tertib tanpa mengorbankan akidah.
9. Prinsip untuk seri ini
Karena itu, dalam seri 60 hari ini, setiap budaya Jepang akan kita baca dengan filter yang sama. Kita akan bertanya: apa maknanya? Bagaimana contohnya dalam kehidupan sehari-hari? Nilai baik apa yang bisa diambil? Apakah ada unsur yang perlu diwaspadai? Bagaimana seorang Muslim sebaiknya menyikapinya?
Dengan cara ini, kita berharap pembahasan budaya tidak berhenti pada rasa kagum. Ia menjadi sarana belajar adab, memperbaiki diri, menjaga identitas, dan melihat bahwa hikmah bisa ditemukan di banyak tempat, selama kita tetap menjadikan agama sebagai kompas.
Latihan Refleksi Hari Ini
- Apakah saya bisa membedakan antara kebiasaan sosial dan ritual agama?
- Budaya Jepang apa yang menurut saya aman untuk dipelajari?
- Budaya atau kebiasaan apa yang perlu saya waspadai sebagai Muslim?
- Apakah saya pernah merasa tidak enak menolak sesuatu yang bertentangan dengan prinsip agama?
- Bagaimana cara saya menolak dengan sopan tetapi tetap tegas?
10. Ringkasan Hari Ini
| Pelajaran utama | Tidak semua budaya netral. Sebagian adalah kebiasaan sosial, sebagian tradisi, dan sebagian ritual agama. |
| Yang boleh dipelajari | Adab sosial seperti disiplin, kebersihan, antre, tidak mengganggu orang lain, dan menjaga amanah. |
| Yang perlu dibatasi | Tradisi yang bercampur dengan kegiatan tidak syar’i, seperti alkohol, ikhtilat tidak terjaga, atau melalaikan shalat. |
| Yang harus dijauhi | Ritual agama lain, jimat, doa kepada selain Allah, dan keyakinan yang bertentangan dengan tauhid. |
| Sikap terbaik | Tegas dalam prinsip, lembut dalam penyampaian. |
© Muhammad Farid Maricar — Seri 60 Hari Mengenal Budaya Jepang
Komentar