Hari 002 dari 60 Mengenal Budaya Jepang — Jepang Bukan Negeri Sempurna
Jepang Bukan Negeri Sempurna
Hari kedua dari seri 60 hari mengenal budaya Jepang: belajar bersikap adil, tidak silau, tidak minder, dan tidak menjadikan budaya manusia sebagai standar kebenaran.
Salah satu hal yang perlu kita luruskan sejak awal adalah ini: Jepang bukan negeri sempurna. Jepang memang punya banyak hal baik yang bisa dipelajari. Kebersihannya, ketertibannya, kedisiplinannya, sistem transportasinya, cara sebagian masyarakatnya menjaga ruang publik, semua itu bisa menjadi pelajaran. Tetapi Jepang tetaplah negeri manusia. Ada kelebihan, ada kekurangan. Ada yang bisa diambil, ada yang harus ditinggalkan.
Genjitsu — kenyataan; melihat sesuatu sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang kita bayangkan.
1. Jangan melihat Jepang hanya dari sisi indahnya
Banyak orang mengenal Jepang dari anime, drama, vlog jalan-jalan, teknologi, kereta cepat, bunga sakura, makanan yang tertata rapi, atau video orang-orang yang mengembalikan barang hilang. Itu semua memang bagian dari Jepang. Tetapi itu bukan seluruh Jepang.
Di balik sisi yang tertib dan indah, Jepang juga memiliki banyak tantangan. Ada tekanan kerja yang tinggi. Ada kesepian di kota besar. Ada orang tua yang hidup sendiri. Ada anak muda yang merasa terasing. Ada budaya minum yang sulit dihindari dalam sebagian lingkungan kerja. Ada pula orang yang sangat disiplin secara sosial, tetapi tidak mengenal tujuan hidup yang benar sebagaimana yang diajarkan Islam.
2. Kekaguman yang berlebihan bisa berbahaya
Kagum kepada hal baik itu wajar. Kita melihat jalan yang bersih, lalu kagum. Kita melihat orang antre dengan tertib, lalu kagum. Kita melihat orang meminta maaf ketika terlambat, lalu kagum. Tidak masalah.
Yang menjadi masalah adalah ketika kekaguman itu berubah menjadi silau. Semua yang dari Jepang dianggap benar. Semua yang dari negeri sendiri dianggap buruk. Semua budaya luar dipuji, sementara semua kekurangan diri sendiri dijadikan bahan hinaan. Pada titik ini, belajar budaya tidak lagi membuat seseorang bijak, tetapi justru membuatnya kehilangan keseimbangan.
3. Jangan pula menolak semua
Namun, sikap sebaliknya juga kurang tepat. Karena Jepang bukan negeri Muslim, lalu semua hal dari Jepang dianggap tidak layak dipelajari. Padahal, tidak semua budaya adalah ritual agama. Banyak hal dalam kehidupan sosial yang sifatnya umum dan bisa menjadi pelajaran.
Misalnya, datang tepat waktu, menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, menghargai antrean, tidak berisik di tempat umum, mengembalikan barang yang bukan miliknya, dan bekerja dengan tanggung jawab. Ini semua adalah nilai sosial yang baik. Bahkan, seorang Muslim seharusnya lebih layak untuk mengamalkan nilai-nilai seperti itu.
4. Jepang maju bukan karena semua budayanya benar
Kadang ada orang yang berpikir, karena Jepang maju, berarti semua cara hidup mereka benar. Ini juga perlu diluruskan. Kemajuan teknologi, transportasi, pendidikan, atau ekonomi tidak otomatis berarti semua nilai hidupnya benar.
Sebuah masyarakat bisa sangat maju dalam urusan dunia, tetapi tetap punya kekosongan dalam urusan akhirat. Bisa sangat tertib dalam urusan sosial, tetapi tidak mengenal ibadah kepada Allah. Bisa sangat disiplin dalam pekerjaan, tetapi kehilangan ketenangan batin. Karena itu, kita tidak boleh menjadikan kemajuan dunia sebagai ukuran mutlak kebenaran.
| Hal yang Tampak | Pelajaran yang Bisa Diambil | Batas yang Perlu Dijaga |
|---|---|---|
| Jepang bersih | Menjaga lingkungan dan tidak menyusahkan orang lain. | Jangan menganggap kebersihan sosial cukup tanpa kebersihan akidah dan ibadah. |
| Jepang disiplin | Menghargai waktu, janji, dan tanggung jawab. | Jangan sampai disiplin kerja mengorbankan shalat, keluarga, dan kesehatan. |
| Jepang tertib | Menghormati aturan dan hak orang lain. | Jangan taat pada aturan manusia jika aturan itu bertentangan dengan syariat. |
| Jepang punya budaya malu | Tidak sembarangan berbuat buruk di depan umum. | Rasa malu harus diarahkan kepada Allah, bukan sekadar takut penilaian manusia. |
5. Sisi sulit hidup di Jepang
Bagi orang yang hanya melihat Jepang dari luar, hidup di Jepang mungkin tampak sangat nyaman. Tetapi bagi yang tinggal lebih lama, akan terasa bahwa negeri ini juga memiliki tantangan. Sistemnya rapi, tetapi kadang terasa kaku. Masyarakatnya sopan, tetapi tidak selalu mudah didekati. Ruang publiknya tertib, tetapi kehidupan sosialnya bisa terasa sepi.
Ada orang yang awalnya sangat ingin tinggal di Jepang, tetapi setelah benar-benar hidup di sini, baru menyadari bahwa keteraturan juga punya harga. Kita harus mengikuti banyak aturan kecil. Kita harus memahami budaya tidak langsung. Kita harus peka terhadap suasana. Kita tidak bisa seenaknya. Bagi sebagian orang, ini mendidik. Bagi sebagian yang lain, ini melelahkan.
Tertib dan aman
Transportasi rapi, jalan bersih, barang relatif aman, orang menjaga antrean, dan banyak sistem berjalan dengan konsisten.
Tekanan dan kesepian
Hidup bisa terasa individualis, komunikasi tidak selalu langsung, dan tekanan untuk mengikuti aturan sosial bisa cukup berat.
6. Mengapa sikap adil itu penting?
Karena tanpa sikap adil, kita akan jatuh ke salah satu dari dua ekstrem. Ekstrem pertama adalah terlalu memuja Jepang, sampai semua hal dari Jepang dianggap lebih baik. Ekstrem kedua adalah terlalu menolak Jepang, sampai hal-hal baik pun tidak mau dipelajari.
Padahal, seorang Muslim seharusnya bisa lebih tenang dalam melihat dunia. Kita punya prinsip. Kita punya standar. Kita punya filter. Kita bisa mengambil pelajaran dari siapa pun selama pelajaran itu tidak bertentangan dengan agama. Tetapi kita juga berani meninggalkan apa pun, meskipun tampak indah, jika itu bertentangan dengan syariat.
7. Jepang sebagai cermin, bukan kiblat
Menurut saya, cara paling aman mempelajari Jepang adalah menjadikannya sebagai cermin, bukan kiblat. Cermin artinya kita melihat sesuatu lalu mengevaluasi diri. Misalnya, ketika melihat orang Jepang menjaga kebersihan, kita bertanya: apakah saya sudah menjaga kebersihan rumah, masjid, kelas, kantor, dan lingkungan?
Ketika melihat mereka menghargai waktu, kita bertanya: apakah saya masih mudah meremehkan janji? Ketika melihat mereka tidak berisik di kereta, kita bertanya: apakah saya sudah menjaga agar lisan dan tindakan saya tidak mengganggu orang lain?
8. Jangan lupa: kita belajar untuk memperbaiki diri
Tujuan seri ini bukan agar kita menjadi orang Jepang. Tujuan seri ini adalah agar kita menjadi Muslim yang lebih baik ketika belajar dari pengalaman hidup di Jepang. Lebih tertib. Lebih amanah. Lebih peka. Lebih menjaga hak orang lain. Lebih sadar bahwa banyak adab baik yang sebenarnya sudah diajarkan Islam, tetapi kadang belum kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi, ketika nanti kita membahas budaya seperti kenkyo, gambari, mottainai, omoiyari, haragei, atau wa, kita tidak sedang mengatakan bahwa Jepang adalah standar kebaikan. Kita hanya sedang belajar membaca fenomena sosial, lalu mengambil hikmah yang sesuai dengan prinsip kita.
Latihan Refleksi Hari Ini
- Apakah selama ini saya melihat Jepang terlalu ideal?
- Hal baik apa dari Jepang yang bisa saya pelajari tanpa melanggar prinsip agama?
- Hal apa dari Jepang yang perlu saya waspadai?
- Apakah saya pernah merasa minder sebagai Muslim ketika melihat keteraturan budaya lain?
- Adab Islam apa yang ingin saya hidupkan kembali setelah melihat sisi baik budaya Jepang?
9. Ringkasan Hari Ini
| Pelajaran utama | Jepang memiliki banyak hal baik, tetapi tetap bukan negeri sempurna. |
| Sikap yang perlu dijaga | Tidak silau, tidak minder, tidak menolak semua, dan tidak meniru semua. |
| Cara belajar | Menjadikan Jepang sebagai cermin untuk memperbaiki adab, bukan sebagai kiblat hidup. |
| Standar akhir | Islam tetap menjadi ukuran benar dan salah, bukan budaya manusia. |
© Muhammad Farid Maricar — Seri 60 Hari Mengenal Budaya Jepang
Komentar