Muhammad Farid Maricar, B.Eng., M.Eng.,

Catatan, tulisan, riset, refleksi, dan dokumentasi pembelajaran Muhammad Farid Maricar.

← Kembali ke Beranda

Hari 001 dari 60 Mengenal Budaya Jepang — Mengapa Perlu Mengenal Budaya Jepang dengan Ilmu?

Hari 001 dari 60 Mengenal Budaya Jepang — Mengapa Perlu Mengenal Budaya Jepang dengan Ilmu?
Hari 001 Budaya Jepang Fondasi

Mengapa Perlu Mengenal Budaya Jepang dengan Ilmu?

Hari pertama dari seri 60 hari mengenal budaya Jepang: belajar melihat budaya dengan adil, mengambil nilai yang baik, dan tetap menjaga prinsip sebagai seorang Muslim.

Target Pemula
Level Fondasi
Fokus Cara Pandang

Ketika mendengar kata Jepang, sebagian orang langsung membayangkan negara yang bersih, tertib, disiplin, aman, maju, dan masyarakatnya sangat menghargai waktu. Semua itu memang bisa kita lihat dalam banyak sisi kehidupan Jepang. Tetapi, sebagai seorang Muslim, kita perlu belajar melihat budaya dengan lebih hati-hati. Tidak semua yang baik secara sosial berarti boleh diikuti seluruhnya. Tidak semua yang tampak indah berarti bebas dari masalah secara agama.

文化

Bunka — budaya, kebiasaan, cara hidup, dan nilai sosial yang hidup dalam masyarakat.

1. Belajar budaya bukan berarti meniru semuanya

Salah satu kesalahan ketika membahas Jepang adalah terlalu cepat kagum, lalu menjadikan Jepang seperti standar kesempurnaan. Semua yang dari Jepang dianggap baik. Semua yang dilakukan orang Jepang dianggap layak ditiru. Padahal, Jepang tetaplah negeri manusia. Ada hal-hal baik yang bisa dipelajari, tetapi ada juga hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip Islam.

Di sisi lain, ada juga orang yang terlalu cepat menolak. Karena Jepang bukan negeri Muslim, maka semua budayanya dianggap tidak perlu dilihat. Ini juga menurut saya kurang adil. Sebab, dalam kehidupan sosial, ada nilai-nilai umum yang sebenarnya juga sejalan dengan adab Islam: menjaga kebersihan, menghargai waktu, tidak mengganggu orang lain, amanah, tertib, dan tidak boros.

Tidak taklid budaya, tidak pula menolak semua. Yang baik diambil sebagai pelajaran. Yang bertentangan dengan syariat ditinggalkan.

2. Mengapa perlu memakai ilmu?

Karena budaya itu tidak selalu sederhana. Ada budaya yang murni sosial, ada yang terkait sejarah, ada yang terkait etika masyarakat, dan ada pula yang bercampur dengan keyakinan atau ritual agama. Kalau kita tidak punya ilmu, kita bisa salah mengambil sikap.

Misalnya, budaya antre, menjaga suara di kereta, memilah sampah, dan datang tepat waktu, ini bisa kita pelajari sebagai adab sosial. Tetapi ketika masuk ke hal-hal seperti jimat, ritual kuil, doa kepada selain Allah, atau kebiasaan tertentu yang berkaitan dengan keyakinan, maka seorang Muslim perlu berhenti dan menjaga batas.

Catatan penting: seri ini tidak dibuat untuk mengajak pembaca mengikuti ritual agama Jepang, membeli jimat, mengikuti perayaan yang mengandung unsur ibadah agama lain, atau menormalisasi kebiasaan yang bertentangan dengan syariat. Fokus kita adalah belajar nilai sosial yang baik dan aman untuk diarahkan kepada adab Islam.

3. Ada budaya yang bisa menjadi cermin

Terkadang, ketika kita melihat budaya lain, sebenarnya kita sedang diberi cermin. Kita melihat bagaimana orang lain menjaga kebersihan, lalu kita bertanya kepada diri sendiri: mengapa sebagai Muslim yang tahu pentingnya kebersihan, kita justru sering abai?

Kita melihat bagaimana orang Jepang bisa tertib dalam antrean, lalu kita bertanya: mengapa kita masih mudah menyerobot hak orang lain? Kita melihat bagaimana mereka menjaga suara di tempat umum, lalu kita bertanya: mengapa kita kadang merasa bebas mengganggu kenyamanan orang lain?

Pelajaran penting: budaya Jepang tidak kita jadikan sumber kebenaran. Tetapi ia bisa menjadi cermin untuk melihat bagian-bagian dari adab kita yang mungkin selama ini belum kita amalkan dengan baik.

4. Nilai yang bisa kita pelajari

Dalam seri 60 hari ini, kita akan memilih budaya-budaya yang bisa diarahkan kepada kebaikan. Bukan budaya yang mengandung ritual agama, bukan pula budaya yang bertentangan dengan syariat. Fokus kita adalah nilai-nilai sosial yang bisa membantu kita menjadi pribadi yang lebih tertib, lebih amanah, lebih peka, dan lebih bertanggung jawab.

Nilai yang Dipelajari Contoh dalam Budaya Jepang Arah dalam Islam
Kebersihan Souji, memilah sampah, menjaga ruang publik Menjaga kebersihan sebagai bagian dari adab dan tanggung jawab.
Ketepatan waktu Datang tepat waktu, sistem transportasi tertib Menghargai waktu sebagai amanah dan tidak merugikan orang lain.
Rendah hati Kenkyo, tidak suka menonjolkan diri Tawadhu tanpa merendahkan nikmat Allah.
Tidak boros Mottainai, menggunakan barang sampai benar-benar bermanfaat Menghindari israf dan tabdzir.
Kepekaan sosial Omoiyari, membaca suasana, tidak membuat meiwaku Memikirkan hak dan kenyamanan orang lain.

5. Batas yang harus dijaga

Mempelajari budaya Jepang tidak boleh membuat kita kehilangan batas. Seorang Muslim punya prinsip. Kita boleh belajar dari kedisiplinan orang lain, tetapi tidak boleh mengorbankan akidah. Kita boleh belajar dari kebersihan mereka, tetapi tidak perlu ikut ritual mereka. Kita boleh mengambil manfaat dari sistem sosial mereka, tetapi tidak boleh menganggap semua budaya sebagai sesuatu yang netral.

Boleh dipelajari

Adab sosial

Antre, tertib, menjaga kebersihan, tepat waktu, tidak mengganggu orang lain, menjaga amanah, dan menghormati ruang pribadi.

Perlu dihindari

Hal yang bermasalah

Ritual agama lain, jimat, doa kepada selain Allah, budaya minum alkohol, membuka aurat, ikhtilat yang tidak terjaga, dan hiburan yang melalaikan.

6. Cara membaca budaya Jepang dalam seri ini

Agar pembahasan tidak sekadar menjadi informasi, setiap materi akan dibaca dengan empat langkah. Pertama, kita mengenal istilah atau kebiasaan budaya Jepang. Kedua, kita melihat contohnya dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, kita mengambil pelajaran sosial yang baik. Keempat, kita menimbangnya dengan prinsip Islam.

Kenali → Pahami → Ambil Pelajaran → Jaga Batas Inilah pola utama dalam 60 hari mengenal budaya Jepang.

7. Contoh sederhana: budaya tepat waktu

Orang Jepang dikenal cukup serius dalam urusan waktu. Janji jam 10 berarti datang sebelum jam 10. Kereta yang terlambat beberapa menit saja bisa dianggap sebagai masalah. Dalam banyak situasi, keterlambatan bukan hanya dianggap sebagai urusan pribadi, tetapi juga bisa merugikan orang lain.

Dari sini, kita bisa mengambil pelajaran. Dalam Islam, janji adalah amanah. Waktu orang lain bukan milik kita. Ketika kita terlambat tanpa alasan yang benar, sebenarnya kita sedang mengambil sebagian hak orang lain: waktunya, rencananya, dan mungkin juga ketenangannya.

Refleksi: Kadang kita tidak perlu jauh-jauh mencari bukti bahwa Islam itu indah. Kita hanya perlu lebih serius mengamalkan adab yang sebenarnya sudah diajarkan dalam agama kita.

8. Jangan minder dan jangan silau

Belajar dari Jepang bukan berarti kita harus minder sebagai orang Indonesia atau sebagai Muslim. Justru seharusnya, semakin kita melihat nilai baik dalam budaya lain, semakin kita bertanya: mengapa nilai seperti ini belum kuat dalam diri kita, padahal agama kita mengajarkan adab yang tinggi?

Kita juga tidak perlu silau. Jepang punya banyak hal baik, tetapi juga punya banyak tantangan: tekanan kerja, kesepian, individualisme, budaya minum, masalah keluarga, dan berbagai hal lain yang tidak selalu terlihat dari luar. Karena itu, cara terbaik adalah bersikap adil. Ambil manfaatnya, tinggalkan yang buruk, dan tetap menjadikan Islam sebagai kompas.

Jangan sampai terbalik: Jangan sampai kita lebih kagum kepada budaya manusia daripada kepada petunjuk Allah. Budaya hanya bahan belajar. Hidayah tetap datang dari Allah.

Latihan Refleksi Hari Ini

  1. Budaya Jepang apa yang selama ini paling membuat saya kagum?
  2. Apakah kekaguman itu masih dalam batas wajar?
  3. Nilai baik apa yang sebenarnya juga diajarkan dalam Islam, tetapi belum saya amalkan dengan baik?
  4. Hal apa dari budaya Jepang yang perlu saya waspadai sebagai seorang Muslim?
  5. Dalam satu hari ke depan, adab kecil apa yang ingin saya perbaiki?

9. Ringkasan Hari Ini

Pelajaran utama Budaya Jepang perlu dipelajari dengan ilmu, bukan dengan kekaguman buta.
Yang bisa diambil Adab sosial, disiplin, kebersihan, amanah, efisiensi, dan kepekaan terhadap orang lain.
Yang harus dijaga Akidah, ibadah, aurat, batas pergaulan, makanan halal, dan prinsip syariat.
Sikap terbaik Adil: tidak menolak semua, tidak meniru semua.

Komentar

Lanjutkan membaca dari halaman asal

Gunakan menu ini untuk kembali ke halaman daftar materi atau halaman sebelumnya.

🇯🇵 Daftar Bahasa Jepang 🇬🇧 Daftar IELTS 🎓 Persiapan Studi 🏠 Beranda